Latar Belakang**
Pada tahun 1950-an, teori domino diperkenalkan sebagai alasan untuk intervensi Amerika Serikat dalam konflik di Asia Tengtara. Teori ini meneguhkan gagasan bahwa jika sebuah negara jatuh ke tangan komunis, maka wilayah lain akan segera ikut serta dalam "roti lapis merah" dan menjadi zona komunis.
Pengembangan Teori Domino
Teori domino dikembangkan sebagai alasan untuk intervensi Amerika Serikat di Vietnam. Pada tahun 1950-an, Vietnam dibagi menjadi dua bagian: Vietnam Utara, yang dikontrol oleh pemerintahan komunis, dan Vietnam Selatan, yang didukung oleh Amerika Serikat.
Menurut teori domino, jika Vietnam Selatan jatuh ke tangan komunis, maka Thailand, Malaysia, Indonesia, dan Filipina lainnya akan segera ikut serta dalam "roti lapis merah" dan menjadi zona komunis. Hal ini membantu meningkatkan pendukung untuk intervensi Amerika Serikat di Vietnam.
Kesimpulan
Teori domino telah digunakan sebagai alasan untuk intervensi Amerika Serikat di berbagai konflik, termasuk Perang Vietnam, serta di Afrika dan Timur Tengah. Teori ini juga dikembangkan sebagai alasan untuk menyerahkan pemerintahan sayap kiri otoriter di Afrika Sub-Sahara.
Namun, kekalahan sebuah kekuatan super tidak segera mendorong musuh-musuh kita untuk melancarkan agresi yang sebelumnya enggan dilakukan. Sebaliknya, teori domino telah digunakan sebagai alasan untuk menyerahkan pemerintahan sayap kiri otoriter di Afrika Sub-Sahara dan Timur Tengah.
Daftar Pustaka
- "The Quotable Quotes of Dwight D. Eisenhower". National Park Service. December 5, 2013.
- "Rough Draft of History: 'All Right, Let's Get the @#!*% Out of Here'" Diarsipkan 2005-11-26 di Wayback Machine., Richard Gott, August 11, 2005
- "Another Vietnam?", Max Boot, The Wall Street Journal, August 24, 2007
- KGB Active Measures
- Red Army Faction
- Brigate Rosse
- The Last Years of the Monroe Doctrine, 1945-1993, p. 133 Gaddis Smith
- Smith, Ian (2008). Bitter Harvest: Zimbabwe and the Aftermath of Its Independence. London: John Blake Publishing. hlm. 280. ISBN 978-1-84358-548-0.
- "The War and the Peace" Diarsipkan 2007-06-24 di Wayback Machine., Robert Wright, Slate, April 1, 2003
Lain-Lain
Dalam memoarnya, mantan Perdana Menteri Rhodesia Ian Smith menyebut kebangkitan pemerintahan sayap kiri otoriter di Afrika Sub-Sahara pada era dekolonisasi sebagai "taktik domino kaum komunis". Menurut Smith, pembentukan pemerintahan pro-komunis di Tanzania (1961–64) dan Zambia (1964) dan pemerintahan Marxis-Leninis di Angola (1975), Mozambik (1975), dan Rhodesia (1980)[9] merupakan bukti "penggerogotan diam-diam imperialisme Soviet di benua ini."[10]
Sejumlah analis kebijakan luar negeri di Amerika Serikat menyebut penyebaran teokrasi Islam dan demokrasi liberal di Timur Tengah sebagai dua kemungkinan adanya teori domino. Pada masa Perang Iran-Irak, Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya mendukung Irak karena khawatir teokrasi radikal Iran akan menyebar di Timur Tengah. Semasa invasi Irak 2003, sejumlah pihak neokonservatif Amerika berpendapat bahwa apabila pemerintahan demokratis dibentuk di Irak, demokrasi dan liberalisme akan menyebar di Timur Tengah. Hal tersebut dijuluki sebagai "teori domino terbalik"[11] karena efeknya dianggap positif oleh Barat, bukan negatif.